my Guest Book

Get Gifs at CodemySpace.com

Minggu, 06 Desember 2015

Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN SUnan Kalijaga menjadi Pembicara Tamu di Collnet 2015 di Delhi, India

Delhi- Salah satu aspek yang diukur dalam World Class University adalah seberapa banyak tulisan para akademisi dan peneliti di sebuah kampus dikenal, diindeks dan dikutip dalam tulisan-tulisan bertaraf international. Collnet Meeting ke-16 menggelar 11 th International Conference on Webometrics, Informetrics and Scientometrics (WIS) di Institute of Economic Growth – University of Delhi, India.

Para akademisi, pustakawan dan peneliti dari 26 negara (diantaranya Amerika Serikat, Jerman, Polandia, Rusia, Perancis, Iran, Indonesia, Australia, Srilangka, Jepang, Firlandia, Belanda, Kanada, Korea Selatan dan India) hadir mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perkembangan di bidang Webometrics, Informetrics, Scientometrics dan Sosial Media.
Labibah Zain, Dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi pembicara tamu dalam acara tersebut. Dalam presentasinya yang dimoderatori oleh Dr Debal C Kar, Presiden Asosiasi Profesi Pustakawan (ASLP) Labibah mengatakan bahwa Sosial media sesungguhnya bisa dijadikan ajang untuk berbagi hasil penelitian. Lebih lanjut, Labibah mengatakan bahwa disamping berbagi pengetahuan tentang hasil riset, beberapa pustakawan di Indonesia menggunakan sosial media untuk membangun branding profesi pustakawan, mengadvokasi profesi dan juga untuk berkomunikasi dengan pengguna dan masyarakat luas.

Disamping menjadi pembicara tamu, Labibah juga diminta utuk menjadi chairperson dalam sesi Quantitative Analysis of S&T Innovations. Collnet meeting and conferences 2015 yang dilaksanakan pada tanggal 26-29 Nopember 2015 merupakan konferensi yang menarik; para peserta menanggapi setiap paparan hasil riset dengan penuh antusias dan metodologi didiskusikan dengan terbuka.
Beberapa temuan dan rekomendasi dari Collnet 2015 adalah:
1. China banyak disebut mengalami kemajuan yang pesat karena paper paper mereka visible di dunia internasional 2. Collaborative Research sangat membantu agar penelitian seseorang/lembaga dikenal dan dikutip banyak orang 3. Pustakawan harus lebih selektif dalam memilih indeks rangking research university yang sesuai dengan visi misi lembaganya. Karena indeks yang dianggap bagus oleh negara tertentu belum tentu dianggap bagus bagi negara lain. Bias bisa jadi ada dimana mana
4. Pustakawan harus lebih proaktif dalam memberikan training tentang information retrieval tools, strategy and resources kepada para akademisi sehingga para akademisi dan peneliti bisa mengakses sumber informasi yang lebih luas. Beberapa peneliti di beberapa negara masih ada yang belum menyadari perkembangan di dunia informasi 5. Sosial media memegang peranan penting dalam menyebarkan hasil riset.
6. Penelitian tentang informetrics di bidang humanity dan social sciences perlu mendapat perhatian karena dalam Collnet 2015 ini bidang Science masih mendominasi.
Disamping diskusi, para peserta juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam “Cultural Programs” yang diadakan panitia dan juga mengunjungi Tajmahal di Agra, India. Konferensi ditutup dengan laporan panitia dan juga jabat tangan dari tuan rumah Dr. P K Jain ( India) kepada calon tuan rumah Collnet 2016, Prof. Dr Jean-Charles Lamirel (Perancis).(Lb)

Sumber:

Jumat, 30 Mei 2014

LAPORAN AKHIR PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK PADA SISWA KELAS 2 SDN TAMASARI II YOGYAKARTA




OLEH : Candra Pribadi (11600008) dan Rabbani Ischak (11600039) mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Islam Negeri Yogyakarta


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dalam belajar matematika agar konsepnya matang dalam pikiran siswa, maka guru lebih baik menanamkan dasar yang kuat kepada siswa. Penanaman dasar konsep matematika yang tepat dapat dilakukan kepada siswa pada Sekolah Dasar (SD). Penggunaan model pembelajaran dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik sangat cocok untuk siswa SD karena mereka masih berpikir konkret. Dengan demikian, mereka akan mudah menerima proses matematika horizontal dalam PMRI untuk selanjutnya dibawa menuju matematika vertikal.
Pada siswa kelas 2 SD, masih dikenalkan materi tentang operasi bilangan asli. Materi ini akan lebih mudah dan menyenangkan diajarkan dengan pendekatan PMRI. Dengan pembelajaran matematika realistik ini siswa dapat belajar matematika dengan lebih konkret karena siswa langsung belajar melalui kehidupan kesehariannya. Melalui sifat pembelajaran matematika realistik yang berbasis lingkungan ini, dapat dimafaatkan guru sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan kepedulian siswa terhadap kondisi sosial disekitarnya. Adapun cara untuk menumbuhkembangkan kepedulian siswa ini dapat dilakukan dengan memberikan suatu kondisi lingkungan masyarakat kemudian siswa diajak untuk diskusi tentang kondisi lingkungan tersebut, apakah sudah ideal atau belum.

1.2  Pertanyaan Penelitian
Bagaimana proses berpikir siswa dalam menyelesaikan permasalahan realistic operasi hitung bilangan ?

METODE
2.1 Pengumpulan Data
2.1.1 Sekolah
Sekolah yang menjadi sasaran observer dalam melakukan observasi berkaitan dengan permasalahan realistik, yaitu :
·         Nama Sekolah             : SDN TamanSari II
·         Alamat sekolah            : Jalan Sadewa no.37, Yogyakarta
2.1.2 Partisipan
Dalam pelaksanaan observasi, pihak sekolah urut membantu observer berkaitan dengan :
·      Kepala Sekolah           : Memberi ijin kepada observer untuk melakukan
  observasi selama 2 hari
  Menyediakan kelas kepada observer
·      Guru kelas II               : Memberikan jadwal kepada observer
              Sebagai narasumber ketika observasi
  Membantu observer dalam uji coba soal
·       Siswa kelas II             : Sebagai objek dalam kegiatan observasi soal

2.1.3 Metode pengumpulan Data
                Metode yang digunakan observer dalam pengumpulan data, yaitu :
a)      Observasi
Observasi dilakukan pada hari Rabu, 14 Mei 2014 pada jam ke-1  dan ke-2 di kelas II SDN TamanSari II Yogyakarta dengan menggunakan Lembar Observasi Aktivitas Guru yang dibuat oleh observer.
b)      Pembelajaran
Pada saat pembelajaran, observer memberikan sebuah soal open ended yang dikerjakan secara individu selama 20 menit. Pada saat pembelajaran, observer dibantu oleh guru kelas II. Sebelum soal open ended diberikan kepada siswa, guru kelas II memberikan apersepsi dan membahas permasalahan – permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan siswa sehari – hari.

2.2  Rencana Pembelajaran
a)      Starting Point
Siswa telah memahami materi operasi hitung bilangan dengan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian sederhana.

b)     Tujuan Pembelajaran
Memfasilitasi penyelesaian dari permasalahan realistik berbentuk soal cerita pada materi Operasi Hitung Bilangan

c)      Masalah
Ibu guru memiliki 5 pakbukutulis
Setiap 1 pakberisi 10 buahbukutulis
Ibu guru akanmemberikanbukutuliskepada 33 siswanya
Setiapsiswamendapatkan 1 buahbukutulis
Berapasisabukutulis yang dimilikiibuguru ?

d)     Hipotesis
Dari permasalahan yang diberikan observer di atas, hipotesis dari penyelesaiannya adalah sebagai berikut.




2.3  Data Analisis
a)        Wawancara
Berikut ini merupakan cuplikan wawancara yang dilakukan oleh observer kepada guru kelas II setelah selesai pelajaran ke-1 dan ke-2. Cuplikan di bawah ini merupakan cuplikan wawancara yang sekiranya penting untuk dilampirkan.
Guru                  : ya begitulah mbak... siswa – siswanya ramai sekali. Tapi biasanya ketika guru menjelaskan mereka mendengarkan (tertawa kecil)
Observer            : oh iya bu.. (tertawa kecil). Lalu, untuk pertemuan selanjutnya apa yang akan dibahas bu?
Guru                  : untuk selanjutnya, saya masih ingin membahas permasalahan – permasalahan yang berbentuk soal cerita mbak..
Observer            : oh begitu bu, lalu apa yang perlu kami siapkan bu? Apakah melanjutkan materi yang disampaikan ibu hari ini atau memberi permasalahan tentang materi – materi yang sudah dipelajari siswa ?
Guru                  : o yaa.. kalau begitu mbak dan mas melanjutkan materi yang telah saya sampaikan hari ini saja. Materinya masih tentang operasi hitung bilangan, nah nanti mbak dan mas memberi permasalahan yang bentuknya soal cerita. Karena anak – anak saya tu masih bingung dalam menyelesaikan soal cerita. Sulit memahaminya, karena apa ya... ya soal cerita itu kan panjang ya mbak... jadi untuk siswa kelas II, memahaminya saja kan perlu beberapa kali pengulangan dalam membacanya. Nah kadang siswa tu cenderung malas melihat soal yang panjang – panjang. Jadi ya perlu dituntun untuk membaca soal dan memahaminya, baru dari situ siswa bisa mengerjakan soal tersebut.
Observer            : iya bu..terima kasih masukannya.
Guru                  : oiya, sebenarnya saya ya jarang mbak menggunakan metode – metode pembelajaran yang tersedia, termasuk pembelajaran matematika realistik. Biasanya ya saya sesuaikan saja dengan kondisi siswanya ketika di kelas.



b)        Hasil Observasi
Pada saat observer mengamati aktivitas pembelajaran matematika di kelas II SDN TamanSari II Yogyakarta, metode yang sedang digunakan oleh guru adalah diskusi, dimana guru sebagai pusat kegiatan pembelajaran. Di awal pembelajaran guru memberikan apersepsi yang sesuai dengan kehidupan sehari – hari siswa.  Dalam menjelaskan materi kepada siswa, guru juga melakukan demonstrasi dengan benda – benda yang ada di kelas. Dengan begitu, siswa dapat lebih mudah dalam memahami permasalahan yang dimaksud. Selain itu, adanya demonstrasi juga membuat suasana kelas menjadi aktif. Antara guru dan siswa saling memberi tanggapan. Cara guru dalam menjelaskan materi pelajaran memberikan motivasi tersendiri bagi siswa dan menjadikan suasana pembelajaran tidak tegang.
Siswa – siswa kelas II memiliki kendala dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan matematika yang berbentuk soal cerita. Dalam mengatasi hal tersebut, guru meminta siswanya untuk membaca soal cerita secara bersama – sama dengan suara lantang, kemudian pada setiap kalimatnya, guru menjelaskan kepada siswa dengan mendemonstrasikannya. Dengan begitu, siswa dapat memahami permasalahan yang dimaksud dalam soal cerita tersebut.
Pada saat pembelajaran, guru kurang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk berfikir secara terbuka atas permasalahan yang diberikan. Guru cenderung memberikan arahan – arahan, atau petunjuk – petunjuk baik menggunakan alat peraga maupun  penguatan dalam kalimat – kalimat pada permasalahan tersebut.  Sehingga hampir setiap siswa memiliki cara yang sama dalam menyelesaikan permasalahan, dimana cara tersebut telah dicontohkan oleh gurunya terlebih dahulu.

c)         Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas
Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Mei 2014 pada jam ke-1 dan ke-2 pada siswa kelas II SD TamanSari II Yogyakarta. Pembelajaran diawali dengan apersepsi yang dilakukan guru terhadap materi yang akan dibahas, serta pembahasan soal – soal yang berkaitan kehidupan sehari – hari siswa.
Pada saat pembelajaran, suasana kelas begitu aktif. Antara siswa dan guru saling memberikan energi yang positif terhadap pembelajaran. Guru juga melakukan demonstrasi dengan benda – benda yang ada di dalam kelas, sehingga siswa lebih mudah dalam mencerna dan memahami permasalahan.
Kegiatan guru dalam memberikan masalah – masalah yang berkaitan dengan keseharian siswa, memudahkan siswa dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan. Namun, teknik atau cara siswa dalam menyelesaikan permasalahan tidak jauh berbeda dengan apa yang dicontohkan guru di dalam kelas. Sehingga penyelesaian antar tiap siswa hampir semuanya mirip.
 Respon guru ketika siswa bertanya sangat baik. Guru memberi kesempatan kepada siswanya untuk bertanya serta memberikan penguatan kepada siswanya yang bertanya. ketika guru mendekati siswanya satu per satu, siswa baru aktif bertanya, namun ketika guru menjelaskan secara sentral di depan kelas, jarang siswa yang bertanya kepada guru.

d)        Pekerjaan Siswa
Gambar 1

Gambar 2.

Gambar 3.

Gambar 4.

Dari 29 siswa kelas II SDN Taman Sari II, jawaban siswa diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok berikut.
a.       21 siswa menjawab soal seperti pada gambar 1.
b.      4 siswa menjawab soal seperti pada gambar 2.
c.       2 siswa menjawab soal seperti pada gambar 3.
d.      2 siswa menjawab soal seperti pada gambar 4.






2.4  Analisa Hasil
a)      Wawancara
Berdasarkan data cuplikan wawancara yang dilakukan oleh observer kepada Guru Kelas II SDN Taman Sari II Yogyakarta, guru kelas II yang juga mengajarkan mata pelajaran matematika kepada siswa kelas II telah memahami titik kesulitan yang dialami oleh siswa – siwanya, yaitu pada permasalahan berbentuk soal cerita.
Untuk meminimalkan kesulitan yang dihadapi siswanya, guru menuntun siswanya untuk membaca soal secara berulang – ulang hingga siswa memahaminya. Sehingga siswa dapat menyelesaikan soal yang dimaksud.

b)     Observasi
Berdasarkan data hasil observasi, sebelum guru membahas materi, guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan kehidupan nyata siswa. Guru telah memahami bahwa siswanya mengalami kesulitan pada permasalahan matematika yang berbentuk soal cerita, oleh karenanya guru memberikan banyak soal – soal cerita agar siswa terbiasa menyelesaikannya.
Ketika membahas soal cerita, guru menginstruksikan siswanya untuk membaca soal dengan suara lantang dan bersama – sama, kemudian guru mendemonstrasikan permasalahan tersebut dengan benda – benda yang ada di sekitar kelas, dengan begitu memudahkan siswanya untuk memahami soal cerita.
Guru juga memberikan contoh kepada siswanya dalam menyelesaikan soal berbentuk soal cerita di papan tulis. Yang dituliskan oleh guru di papan tulis hanya perhitungannya saja, kemudian kesimpulannya. Hal ini menjadikan siswanya juga menyelesaikan soal dengan cara yang sama seperti yang dicontohkan guru di papan tulis.

c)      Pelaksanaan Pembelajaran di kelas
Pembelajaran matematika di kelas dilakukan dengan metode diskusi yang terpusat pada guru. Guru memberi kesempatan kepada siswanya untuk berkomentar dan bertanya kepada guru, namun guru tetap memberi arahan – arahan kepada siswanya. Karena seringnya guru dalam memberikan arahan – arahan kepada siswanya dalam memahami dan menyelesaikan soal, menjadikan siswanya kurang bisa mengembangkan kreatifitasnya, dan cara berpikirnya. Ketika guru tidak memberikan arahan – arahan atau demonstrasi, siswa menjadi kesulitan dalam menyelesaikan soal tersebut, karena mereka sudah terbiasa diberikan arahan – arahan oleh guru.

d)     Pekerjaan Siswa
Awalnya siswa dibiarkan terlebih dahulu untuk mamahami soal yang diberikan oleh observer, namun beberapa menit kemudian guru turut memberi arahan dengan mendemonstrasikannya dengan benda – benda yang ada di dalam kelas. Sehingga setiap siswa memahami apa yang dimaksukan dalam soal tersebut. Yang membedakannya adalah bagaimana cara siswa menghitungnya.
 Dari hasil pekerjaan siswa pada gambar 1., siswa mengerjakan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh guru sebelumnya. Pada hasil yang pertama, siswa telah memahami konsep perhitungan dengan cara yang lebih cepat, yaitu siswa langsung mengalikannya terlebih dahulu baru mengurangkannya.
Dari hasil pekerjaan siswa pada gambar 2., siswa menggunakan cara yang lebih lama disbanding dengan hasil pekerjaan siswa yang pertama. Pada hasil yang kedua, siswa menguraikan apa yang dimaksud soal dengan menggambar 5 kotak yang setiap kotaknya berisi 10 buku. Awalnya siswa menuliskan angka 10 paa tiap kotak yang berarti setiap kotak berisi 10 buku, namun pada ketiga kotak lainnya siswa tiak menuliskan angka 10, hal ini berarti siswa telah memahami bahwa setiap kotak berisi jumlah buku yang sama. Angka 5 di luar kotak menandakan bahwa dalam soal, guru memiliki 5 kotak buku tulis. Setelah siswa menggambar kotak tersebut, barulah siswa memahami bahwa guru memiliki 50 buah buku tulis dengan menjumlakan isi dalam tiap – tiap kotak yang tersedia. Kemudian siswa baru mengurangkannya. Ketika mengurangkannya siswa kurang teliti dalam perhitungannya, hingga hasil akhirnya kurang tepat.
Dari hasil pekerjaan siswa pada gambar 3.,  siswa menggambarkan kelima kotak yang dimaksud dalam soal, dimana setiap soal berisi 10 buku tulis. Dengan mengggunakan operasi bentuk penjumlahan, siswa memperoleh hasil 50 buku tulis yang dimiliki guru sesuai soal. Namun, di lain sisi siswa juga menggunakan operasi bentuk perkalian, walaupun hasilnya sama – sama 50 buku tulis. Siswa menuliskan kedua cara tersebut dikarenakan ia telah memperoleh operasi berbentuk penjumlahan dan perkalian, namun masih bingung dalam mengaplikasikannya, sehingga siswa menggunakan kedua cara tersebut. Yang berbeda dari hasil ketiga ini adalah, siswa menggunakan lambang pembagian dalam caranya, namun perhitungannya dilakukan dengan operasi bentuk pengurangan. Yang dipikirkan oleh siswa ketika guru memberikan buku tulis (dalam soal), adalah sama artinya dengan guru membagikan, sehingga siswa menggunakan lambang pembagian. Namun, dalam perhitungannya siswa tetap menggunakan aturan pengurangan.
Dari hasil pekerjaan siswa pada gambar 4., hampir sama dengan hasil pekerjaan siswa yang ketiga, namun siswa disini siswa telah memahami bagaimana mengaplikasikan operasi pengurangan dan pembagian.

SIMPULAN DAN DISKUSI
A.      Simpulan
Berdasarkan data analisis yang diperoleh dari observasi pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan selama 2 hari di SDN TamanSari II Yogyakarta, kesimpulan yang diperoleh yaitu :
Kendala yang dialami oleh siswa adalah memahami soal cerita. Agar siswa terbiasa menghadapi soal – soal berbentuk soal cerita, guru memberikan permasalahan yang sesuai dengan kehidupan nyata siswa. Ketika guru tidak memberikan arahan – arahan, siswa mengalami kesulitan dalam memahami soal yang dimaksud. Hal ini karena siswa sudah terbiasa diberi arahan oleh guru dalam menyelsaikan permasalahan, terutama soal cerita.
Berdasarkan hasil analisa, 21 siswa telah memahami bagaimana mengaplikasikan operasi bentuk penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Siswa tersebut memiliki cara berpikir yang sama, yaitu mereka menggunakan cara yang lebih cepat dan memperoleh hasil yang tepat. Cara tersebut telah dicontohkan oleh guru sebelumnya. 4 siswa menggunakan cara yang lebih lama, yaitu dengan menggambarkan apa yang dimaksud dalam soal, baru kemudian menjumlahkannya lalu mengurangkannya. Sedangkan keempat siswa lainnya hampur memiliki cara berpikir yang sama, bedanya adalah penggunaan lambang. 2 siswa menggunakan lambang pembagian namun cara perhitungannya menggunakan aturan pengurangan. Dan  2 siswa lainnya telah memahami operasi pengurangan dan pembagian, dengan kata lain, mereka menggunakan lambang pengurangan dan mengitungnya dengan aturan pengurangan.
Cara berpikir siswa hampir kesemuanya sama. Hal ini dikarenakan adanya arahan – arahan yang diberikan oleh guru ketika beliau mendemonstrasikan permasalahan dan cara guru dalam menyelesaikan soal cerita. Bagi siswa yang telah memahami dan menguasai operasi hitung bilang, mereka menyelesaikannya dengan cara yang lebih cepat seperti yang dicontohkan guru. Namun ada beberapa siswa yang menggunakan cara yang sedikit berbeda. Hal ini dikarenakan siswa belum sepenuhnya menguasai operasi hitung bilangan sehingga mereka menggunakan cara yang lebih lama alam menyelesaikan soal, kurang tepat dalam menggunakan lambang, dan ada beberapa siswa yang masih kurang tepat dalam menghitungnya.

B.       Diskusi
Berikut ini merupakan hasil diskusi yang dilakukan oleh observer berdasarkan  pengamatan yang dilakukan pada pembelajaran di kelas dan hasil pekerjaan siswa tentang permasalahan yang diberikan observer. Hampir setiap pekerjaan siswa menggunakan cara yang sama seperti apa yang dicontohkan guru sebelumnya. Sebaiknya, guru memberi sedikit kebebasan bagi siswa untuk menyelesaikan permasalahan sesuai dengan cara berfikirnya masing – masing. Dengan begitu guru dapat menilai seberapa jauh pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Selain itu, dengan berpikir secara terbuka, siswa dapat mengemangkan kreatifitas dan cara berpikir mereka. Sehingga apa yang disampaikan guru akan terus melekat pada ingatan siswa karena mereka berpikir menggunakan caranya masing – masing.

Rabu, 30 April 2014

Tanya – Jawab Kurikulum Anak Berbakat



Created by : Rabbani Ischak
Mata Kuliah : Psikologi Anak Berbakat
Anggota Kelompok :
§      Muhammad Abdurrazaq Al-falaq
§      Muhammad Maulana
§      Endah Tri Spetiana
§      Rabbani Ischak





1.      Bagaimana istilah Gifted menurut Galton ?
Jawab :
Galton memperkenalkan Gifted yang merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan keberbakatan istimewa pada anak Gifted ada pada berbagai bidang, misalnya seperti Madame Curie sebagai Gifted Chemist yang merupakan ahli kimia dengan bakat luar biasa dan istimewa. Dan menurut galton, keberbakatan seorang anak sifatnya diwariskan atau diturunkan (genetically herediter).  

2.      Kapan atau pada tahun berapa istilah Gifted dicetuskan ?
Jawab :
Istilah Gifted pertama kali diperkenalkan pada tahun 1869 oleh Sir Francis Galton

3.      Bagaimana komentar Anda tentang adanya pelayanan beasiswa untuk anak Gifted ?
Jawab :
Pelayanan beasiswa Gifted merupakan pemberian beasiswa bakat dan berprestasi tinggi terhadap anak Gifted tetapi lemah kemampuan ekonominya. Oleh karena itu, dengan adanya pelayanan beasiswa, dapat membantu Gifted untuk mengembangkan potensi dan bakatnya, sehingga bakat yang dimilikinya akan berguna bagi dirinya, keluarga, bangsa, negara, dan agamanya. Dalam mengembangkan potensi dan bakatnya, pastilah membutuhkan sarana – prasarana serta biaya, dengan adanya beasiswa, anak – anak Gifted yang mengalami kesulitan dalam masalah ekonomi akan dibantu, sehingga harapannya tidak pupus di tengah jalan.

4.      Bagaimana komentar Anda tentang adanya pelayanan akselerasi untuk anak Gifted ?
Jawab :
Pelayanan akselerasi gifted merupakan program percepatan belajar yang dilakukan sekolah terhadap anak Gifted dengan memadatkan materi pelajaran dari yang seharusnya ia dapatkan saat itu. Pelayanan akselerasi ini sebenarnya adalah program yang bagus, karena anak – anak berbakat akan berkembang lebih cepat atau bahkan sangat cepat bila dibandingkan dengan ukuran perkembangan anak – anak normal. Dengan adanya akselerasi, ditujukan bagi anak –anak Gifted dalam mengasah intelektualnya dengan waktu yang lebih cepat dan materi yang lebih padat dibanding anak – anak normal lainnya.

5.      Menurut Anda, mengapa uji coba program akselerasi dilakukan pada tingkat SMA ?
Jawab :
Uji coba program akselerasi dilakukan di dua sekolah swasta di DKI Jakarta dan satu sekolah swasta di Jawa Barat yang mendapatkan arahan dari Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah pada tahun 1998/1999. Salah satu sekolah yang ditetapkan menjadi penyelenggara akselerasi adalah SMP Labschool Jakarta, melalui Surat Keputusan Dirjen Dikdasmen Depdikbud no.191/C/Kep/MN/1999 tanggal 7 Juli 1999 tentang penetapan Sekolah Lanjutan tingkat Pertama SLTP Yayasan Pembina IKIP Jakarta sebagai Penyelenggara Program Percepatan belajar. Berdasarkan paparan di atas, maka uji coba tingkat akselerasi tidak hanya dilakukan pada tingkat SMA, tetapi pada tingkat SMP juga.
 
         6.   Apakah program akselerasi memberikan dampak yang positif?
           Jawab :
Program akselerasi tidak cukup memberikan dampak yang positif bagi peserta didik berbakat untuk mengembangkan potensi intelektual yang tinggi, hal ini karena dalam mengikuti pendidikan peserta didik berada dalam kondisi terkekang dan terpaksa sehingga mereka merasa tidak nyaman, selain itu juga karena guru yang mengajar di program akselerasi relatif tidak disiapkan untuk mengajar peserta didik cerdas istimewa.

          7.   Apakah implikasi negatif program akselerasi bagi AB?
Jawab:
Implikasi negatif program akselerasi bagi AB antara lain:
a.         Siswa tidak memperoleh kenyamanan dalam pendidikan.
b.   Layanan yang diberikan guru tidak membantu mengembangkan intelektual peserta didik.
   
       8.   Jelaskan 3 jalur diferensiasi kurikulum!
Jawab:
3      jalur diferensiasi kurikulum yaitu:
a.         Enrichment (Pengayaan), yaitu kegiatan belajar yang memungkinkan perluasan materi kurikulum.
b.      Extention (Pendalaman), yaitu kegiatan belajar yang memungkinkan investigasi bidang studi secara lebih mendalam.
c.  Acceleration (Percepatan), yaitu kegiatan belajar yang memungkinkan untuk menyelesaikan materi belajar dalam waktu yang lebih singkat.

              9.  Bagaimana solusi dari persoalan yang dialami guru dari program akselerasi?
Jawab:
Solusi dari persoalan yang dialami guru pada program akselerasi misalnya dengan memberikan semacam pelatihan khusus bagi guru mengenai bagaimana mengolah standar isi, memodifikasi kegiatan belajar, maupun menentukan bobot materi. Sehingga guru tidak kesulitan lagi untuk mengolah standar isi menjadi isi, dan mampu membuat kegiatan belajar yang dilakukan tidak membosankan, selain itu juga dapat menentukan bobot materi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.    
 
          10. Bagaimana memberikan training untuk mampu menyelesaikan tantangan yang dialami guru pada  
              program akselerasi?
            Jawab:           
Salah satu bentuk training yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan tantangan guru adalah memberikan pelatihan khusus mengenai penggunaan Teknologi 

            11.   Perbedaan kurikulum Gifted dengan kurikulum sekolah reguler
             Jawab :
Kurikulum gifted berbeda dengan kurikulum sekolah regular. Kurikulum gifted sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga cocok diterapkan  pada anak gifted. Apabila kurikulum sekolah regular adalah kurikulum baku dari pemerintah maka kurikulum untuk anak gifted adalah  modifikasi dari kurikulum tersebut. Modifikasi dilakukan dalam berbagai aspek diantaranya beban materi, tingkatan soal  sampai c6,mengurangi kegiatan rutin,berorientasi pada proses, kegiatan aktif dan penerapan tugas,komponen yang bersifat teknis juga harus sesuai.

             12.   Apakah kurikulum Gifted sudah sesuai dengan kebutuhan anak – anak Gifted di sekolah ?
             Jawab :
Menurut kami, sekolah yang menerapkan kurikulum gifted bagi anak didik gifted mereka pasti sudah melaksanaknnya dengan baik. Jadi kurikulum gifted pasti sudah sesuai dengan kebutuhan anak-anak gifted di sekolah tersebut.

       13.  Apakah fungsi kurikulum sudah sepenuhnya tercapai ?
             Jawab :
Saya rasa fungsi dari kurikulum belum sepenuhnya tercapai. Hal ini bisa dilihat dari tidak tercapainya tujuan pendidikan secara utuh, ini bisa dibuktikan dengan kurangnya akhlak dari lulusan-lulusan sekolah di Indonesia. Selain itu banyak dari pelaksana kurikulum (termasuk guru dan kepala sekolah) yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga fungsi kurikulum tidak tercapai.

           14.  Tantangan apa yang membedakan anak Gifted yang mendapatkan kurikulum Gifted dengan
                 kurikulum sekolah reguler?
              Jawab :
Tantangan kurikulum gifted adalah kurikulum tersebut harus mampu memaksimalkan potensi terbaik yang dimiliki anak. Jadi dengan diterapkannya kurikulum tersebut seorang anak gifted bisa berkembang maksimal. Tantngan lainnya adalah, setiap anak gifted memiliki kebutuhan yang berbeda untuk memunculkan bakatnya,oleh karena itu kurikulum gifted setiap anak gifted harus berbeda dan harus sesuai kebutuhan

             15.  Bagaimana mengatasi kendala bagi kurikulum Anak Berbakat ?
             Jawab :
Cara mengatasi kendala kurikulum pada AB adalah sekolah dan pemerintah harus berdiskusi dengan psikolog yang lebih mengetahui tentang cara mengembangkan anak berbakat untuk menemukan kurikulum yang tepat bagi seorang AB. Dengan begitu saya rasa kendala kurikulum AB akan teratasi

          16.  Pada point proses di komponen kurikulum apakah harus urut?
             Jawab :
Ya, sebaiknya urut. Karena komponen-komponen itu tidaklah berdiri sendiri melainkan saling pengaruh-mempengaruhi, berinteraksi, berinterelasi satu sma lain dan membentuk suatu sistem.

      17.     Tujuan apa saja yang hendak dicapai pada kurikulum gifted?  
             Jawab :
Tujuannya antara lain adalah :
a.       Untuk memenuhi hak pendidikan bagi semua orang
b.      Untuk mendukung proses wajib belajar
c.       Pembelajaran emosi sosial bagi ABK
d.      Untuk lebih mengefisiensi pendidikan ABK

18.  Menurut anda metode yang paling tepat untuk anak gifted itu apa?
Jawab :
Menurut saya, semua anak itu talented , gifted dan genius J Hanya orang tualah yang punya tanggung jawab mendidik dengan benar. Anak seperti kertas putih kosong, dan anda yang memberi warna tintanya. Cara mendidik dan mengajar yang benar dan tepat akan membuat IQ,EQ, dan ESQ anak anda meningkat, dan cara yang tidak tepat bisa menurunkannya dan memberi trauma jangka panjang.
Kalau anda tahu metode montesori telah mampu mengubah anak2 low intelligence menjadi normal, dan anak normal menjadi lebih cerdas? dan metode2 lain , seperti Glen Domen etc, Dan kalau anda tahu anak2 yang cerdas bisa menjadi low intelligence kalau anda mendidik secara salah. Anak2 itu semua berbakat di bidang2 terntentu, tinggal bagaimana anda menggali, mengarahkan, dan mendorong ke arah yang tepat .
Cara mendidik yang tepat bagaimana?  Nah anda harus belajar banyak, latihan banyak, ikut training yang banyak, tanya sana sini, open minded dengan masukan orang, tapi jangan sampai hilang PEDE
J Karena banyak orang punya konsep pendidikan di sekolah dan di rumah yang selangit, tapi untrained, jadi salah deh dalam implementasinya.

19.  Dalam bentuk kurikulum ada bentuk pengayaan, apa bedanya dan pengayaan di diferensial kurikulum?
Jawab :
Ada sedikit perbedaan antara “pembelajaran dengan kegiatan”. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pembelajaran merupakan proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sedangkan kegiatan merupakan aktivitas; usaha; pekerjaan; kekuatan dan ketangkasan (dalam berusaha); kegairahan. Dari perbedaan itu, maka dapat dijelaskan bahwa pembelajaran pengayaan adalah pengalaman yang diberikan kepada siswa yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum (tidak semua siswa bisa melakukannya). Sedangkan kegiatan pengayaan adalah aktifitas yang diberikan kepada siswa kelompok cepat dalam memanfaatkan kelebihan waktu yang dimilikinya sehingga mereka memiliki pengetahuan yang lebih kaya dan keterampilan yang lebih baik. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar antara pembelajaran pengayaan dengan kegiatan pengayaan.Dalam memilih dan melaksanakan kegiatan pengayaan, guru perlu memperhatikan apakah kegiatan itu sesuai dengan karakteristik kegiatan pengayaan.

20.  Strategi apakah yang tepat untuk anak berbakat?
Jawab :
Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi pembelajaran adalah :
a.       Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
b.  Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional.
c.       Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk.
Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.